Khitan Perempuan dalam Syariat Islam

Khitan Perempuan dalam Syariat Islam. Dari Ummu AthiyyahRa, ia adalah perempuan yang terbiasa mengkhitan anak-anak perempuan.

Rasulullah Saw bersabda: “Kurangilah sedikit dan janganlah kamu menghabiskannya, karena dengan melakukan itu akan mencerahkan wajah dan memberikan kehormatan ketika menikah ” (HR. Imam Al-Hakim)

Permasalahan khitan wanita saat ini menjadi perdebatan di kalangan medis dan masyarakat. Ada yang pro dan ada yang kontra terutama setelah beredarnya surat edaran tentang larangan medikalisasi sunat perempuan bagi petugas kesehatan nomor : HK.00.07.1.3.1047a tanggai 20 April 2006.

Dimana di dalam surat tersebut disebuntukan bahwa khitan terhadap wanita merupakan praktek perusakan alat kelamin perempuan, sehingga harus dilarang.

Definisi Khitan

Kata khitan berasal dari akar kata Arab khatana-yakhtanu-khatnan, artinya memotong. Makna asli kata khitan dalam bahasa Arab adalah bahagian yang dipotong dari kemaluan laki-laki atau perempuan.

Khitan laki-laki disebut juga dengan I’zar. Sedangkan khitan perempuan disebut juga dengan Khafdh (merendahkan). Secara istilah khitan adalah memotong kulit yang menutupi penis laki-laki atau memotong kulit yang terdapat di atas farji wanita yang seperti jengger kepala ayam jantan.

Dalil-Dalil Tentang Khitan

Dari Abu Hurairah Ra : Saya mendengar Rasulullah Saw bersabda : “ Fitrah itu ada lima : khitan, mencukur bulu disekitar kemaluan, memotong kumis, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak. ” (HR.Bukhari dan Muslim)

Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah Saw bersabda kepada Ummi Athiyyah, salah seorang yang biasa mengkhitan anak-anak perempuan di Madinah, “ Apabila kamu mengkhifadh, janganlah berlebihan karena yang tidak berlebihan itu akan menambah cantiknya wajah dan lebih menambah kenikmatan dalam berhubungan dengan suami. ”(HR.Thabrani, Hadits Hasan)

Dari Hajjaj dari Abi Mali h bin Usamah dari ayahnya, bahwa Nabi Saw bersabda : “ Khitan itu sunnah untuk laki-laki dan kehormatan/dianggap baik untuk wanita. ” (HR.Ahmad dan Baihaqi)

Apabila bertemu dua khitan maka wajib mandi. ” (HR.Muslim)

Hukum hitan Bagi Wanita

A. Ulama yang MEWAJIBKAN khitan, mereka berhujjah dengan beberapa dalil:

  1. Hukum wanita sama dengan laki-laki, kecuali ada dalil yang membedakannya, sebagimana sabda Rasulullah Saw. Dari Ummu Sulaim Ra, Rasulullah Saw bersabda, “Wanita itu saudara kandung laki-laki (HR. Abu Daud).
  2. Adanya beberapa dalil yang menunjukkan Rasulullah Saw menyebut khitan bagi wanita, diantaranya sabda beliau: “Apabila bertemu dua khitan, maka wajib mandi.” (HR. Tinnidzi).
  3. Dari ‘Aisyah Ra berkata, Rasulullah Saw, “Apabila seorang laki-laki duduk di empat anggota badan wanita dan khitan menyentuh khitan maka wajib mandi.” (HR. Bukhori dan Muslim)
  4. Dari Anas bin Malik Ra berkata, Rasulullah Saw bersabda kepada Ummu ‘athiyah, “Apabila engkau mengkhitan wanita biarkanlah sedikit, dan jangan potong semuanya, karena itu lebih bisa membuat ceria wajah dan lebih disenangi oleh suami.”(HR. Al-Khatib)

Khitan bagi wanita sangat masyhur dilakukan oleh para sahabat dan para shaleh sebagaimana dalil tersebut.

B.  Ulama yang BERPENDAPAT SUNNAH, alasannya:

Menurut sebagian ulama tak ada dalil secara tegas yang menunjukkan wajibnya, juga karena khitan bagi laki-Iaki tujuannya membersihkan sisa air kencing yang najis yang terdapat pada tutup kepala dzakar, sedangkan suci dari najis merupakan syarat sahnya sholat.

Sedangkan khitan bagi wanita tujuannya untuk mengecilkan syahwatnya, jadi ia hanya untuk mencari sebuah kesempumaan dan bukan sebuah kewajiban. (Syarhul Mumti’, Syaikh Ibnu Utsaimin)

Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah pernah ditanya, “Apakah wanita itu dikhitan ?” Beliau menjawab, “Ya, wanita itu dikhitan dan khitannya adalah dengan memotong daging yang paling atas yang mirip dengan jengger ayam jantan. Rasulullah Saw bersabda, biarkanlah sedikit dan jangan potong semuanya, karena itu lebih bisa membuat ceria wajah dan lebih disenangi suami.

‘Hal ini karena, tujuan khitan laki-laki ialah untuk menghilangkan najis yang terdapat dimana penutup kulit kepala dzakar. Sedangkan tujuan khitan wanita adalah untuk menstabilkan syahwatnya, karena apabila wanita tak dikhitan maka syahwatnya akan sangat besar.” (Majmu’ Fatawa)

Jadi, khilafiah (perbedaan) mengenai hukum khitan ini ringan, baik sunnah atau wajib keduanya adalah termasuk syariat yang diperintahkan, kita harus berusaha untuk melaksanakannya.

Batas Yang Dipotong Dalam Mengkhitan anak Perempuan

Menurut Imam Ibnul Qayyim, alat kelamin perempuan terdiri atas dua bagian.

Bagian pertama merupakan simbol kegadisannya dan bagian kedua adalah bagian yang harus dipotong saat ia khitan. Bentuknya seperti jengger ayam jantan, bagian ini terletak di bagian farji paling atas diantara dua tepinya. Jika bagian ini dipotong, sisanya akan berbentuk seperti biji kurma. Cara memotongnya tidak boleh berlebihan dan tidak perlu memotong semua bagian itu.

Al-Mawardi berkata, “ Mengkhitan anak perempuan berarti memotong bagian yang pada farji bagian teratas. Kita wajib memotong bagian yang menonjol saja.” Dan ini adalah cara yang benar sesuai dengan pesan Rasulullah Saw kepada Ummi Athiyyah.

Sementara itu, ada cara yang lain dalam mengkhitan perempuan yaitu:

  1. Menjahit dua tepi farji yang kecil tanpa menghilangkan bagian apapun, tujuannya adalah untuk mempersempit terbukanya vagina.
  2. Metode Fir’aun, caranya adalah dengan terlebih dahulu menghilangkan biji kemaluan perempuan dan dua tepi farjinya kemudian menjahitnya. Akibatnya vagina tidak bisa terbuka dan hanya ada lubang kecil dibawah sebagai saluran air kencing dan haid.

Kedua metode ini akan menyiksa perempuan dan bertentangan dengan Islam. Ringkasnya, pelaksanaan khitan pada perempuan harus dilaksanakan oleh tenaga medis yang mengerti ajaran Islam dan dapat menjalankan praktik khifadh sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad Saw.

Hikmah Khitan Pada Perempuan

    1. Khitan pada wanita yang dilakukan secara benar justru bermanfaat untuk kehidupan seksual wanita yang bersangkutan. Karena membuat lebih bersih dan lebih mudah menerima rangsangan.
    2. Khitan dapat membawa kesempumaan agama, karena ia disunnahkan.
    3. Khitan adalah cara sehat yang memelihara seseorang dari berbagai penyakit.
    4. Khitan membawa kebersihan, keindahan, dan meluruskan syahwat.

Penutup

Khitan perempuan merupakan sunnah fitrah yang sudah diterima oleh umat Islam. Walaupun terjadi perbedaan pendapat para ulama dalam masalah hukum khitan pada perempuan, namun syiar khitan perempuan ini harus dilakukan oleh umat Islam.

Karena khitan perempuan yang sesuai dengan prosedur dan dilakukan oleh orang yang mengerti caranya, akan membawa hikmah yang baik bagi perempuan dalam menstabilkan syahwatnya. Dan juga akan bermanfaat bagi hubungan suami istri selanjutnya.

Para bidan dan dokter yang mengkhitan perempuan harus berhati-hati, sehingga tidak memotong atau menyayat terlalu besar, sehingga akan membawa akibat yang buruk bagi yang dikhitan.

Sehubungan dengan menjaga diri dari penyimpangan seksual, maka para muslimah harus mendekatkan diri kepada Allah dan merasakan selalu pengawasan Allah.Sehingga perzinahan dan perselingkuhan jauh dari kita umat Islam ini.

Mengenai adanya pelarangan khitan bagi perempuan dari beberapa pihak, hal itu sebenarnya tidak hak bagi siapapun melarang sesuatu yang dibolehkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Kalau terdapat kesalahan dalam praktek, maka kesalahan itu saja yang harus diluruskan.

Perlunya prosedur tetap (protap) untuk khitan wanita ini, jika perlu ada peraturan pemerintah yang mengaturnya. Semoga tulisan ini bermanfaat. Wallahu A’lambisshawab.

Ust. Drs. H. Ru’yat Hamidi, LC Jt. Pelita 1 Blok C57 Rt.005/03 Pondok Bahar, Karang Tengah Tangerang

Share Button